i do love chipmunk ! time flies so fast isn’t? its like yesterday we’ve been fighting for each other in high school, and now we have to let each other go to catch our future.. lemme tell you guys, you always be number one in my heart.. love you as always. have you heard there’s this thing that heals and its called time? :)
i want the depest, darkest, sickest parts of you that you are afraid to share with anyone because i love yo that much
you should know, if you come any closer, i’m not letting you go.. beginning and ending at once
what’s moving on? according to my assumption, we can conclude “moving on” as move forward, also in the metaphorical sense; “time marches on”. i do not know why this issue also become so important for some of people, including me. why? the deepest confession above my head right now is; I am still unable to move on.
and maybe, my biggest mistake was enjoying the beginning without considering the ending.
I never want to over think, but I just can’t help myself from checking out your profile on social networks. I can’t stop stalking your new photos and giggling when i see it. I can’t stop myself from dreaming that one day you’ll realize that i was really the one for you. if I could go back and change one thing. I would have told you how i felt before i got tangled up in strings of my own lies. I need to feel something. i want to fall for someone, but it seems impossible when I am still stuck on you.
March 3rd. I saw you and realized how far apart we’ve grown. i know i should talk to you and ask you how you’ve been doing. and i really wish that i could, but its just occurred to me that we are strangers now. you do not know me anymore, much less want to. Its okay that you’ve moved on. I know that everything is different now. I’ve been staying strong. Somehow it’s funny though, I’m still trying to remember how things has happened, even it has happened for almost nine months behind.
I know I’m over you, It’s just that every time I see you, you remind me of things i never want to remember again. Yes, it’s sad, this is sad, and I am sad. And now we’re just two different people, trying to forget about each other. Face it, we’ve drifted apart. we don’t have anything to talk about anymore. I miss ‘em old days when you would instantly message me as soon as I logged in, or called me with those stupid nicknames you’ve made. now? i would be lucky to even get a “hey” or “hi” from you.
i miss holding your hand. I miss waking up to your texts. I miss our long goodbyes. I miss laughing with you. I miss hearing your voice on the phone late at night. I miss the way you try to say romantic things, but they turn out dorky. I miss the way you look at in the eyes. I miss keeping ‘us’ a secret from anyone else. I miss the night we’ve spent together. I miss how you laugh at my jokes ( which actually notable funny). I miss how we talk about the randomest shit ever in a day. I miss how we share the food while watching the movie. I miss how you teach me about a chapter of life. I miss how you talk too much about our world. I miss how we fight for each other.
I’ve decide a point : If its not you, it will never be you. But If you are really for me, you always be, no matter how you try to set me free. sometimes the best solution is to let each other go. and see where that takes you both, together at the end, or apart forever. there comes a point in your life when you realize that nothing will ever be the same, and you realize that from now on time will be divided into two parts - before this and after this.
and when we meet ; which I’m sure we will ; all that was there, will be there still. I’ll let it ass and hold my tongue and you will think that I’ve moved on. I know that things arent gonna be the same between us again, honestly, I miss you.
I wish that I had never met you. Then there would be no need to impress you. No need to want you. No need for loving you. No need for crying over you. No need for heartbreaks. No need for pain or tears. No need for forgotten promises. No need for crying myself to sleep. No need for acting like you care. No need, for everything you’ve done to make me feel like absolutely nothing.
But then again, I’m glad I did meet you. Cause you were the one who always asked me if anything was wrong. You were to one who loved me for me. The one who cared when everyone else didn’t. The one who listened. The one who stayed up late just to talk about the randomest shit ever. You were the one who I told secrets to. The one who taught me new things which my school unable to teach. The one who laughed at my bad jokes. The one who did things. And when finally I admit that I’m not the best for you, the best thing I will be able to do is let the best part of you to happened - your smile.
Valentine
this post had been wrote on my another blog :”. its about valentine.February 14th, 2012
I wish that I had never met you. Then there would be no need to impress you. No need to want you. No need for loving you. No need for crying over you. No need for heartbreaks. No need for pain or tears. No need for forgotten promises. No need for crying myself to sleep. No need for acting like you care. No need, for everything you’ve done to make me feel like absolutely nothing. But then again, I’m glad I did meet you. Cause you were the one who always asked me if anything was wrong. You were to one who loved me for me. The one who cared when everyone else didn’t. The one who listened. The one who stayed up late just to talk about the randomest shit ever. You were the one who I told secrets to. The one who taught me new things which my school unable to teach. The one who laughed at my bad jokes. The one who did things. And when finally I admit that I’m not the best for you, the best thing I will be able to do is let the best part of you to happened - your smile.
-garis akhir-
Somehow, I forget one thing. When you are ready to love someone, you must ready to be hurt by the one you loved. In short, broke up. Or sweeter, we can say, letting go. Nggak, misalkan saja kamu salah satu perempuan yang seperti itu - yang memulai relationship… apa yang bisa kita sebut? Pacaran, HTS-an, TTM-an, whatsoever. Intinya, mungkin kamu sama seperti aku. Atau mungkin aku sama seperti kamu semua. Aku lupa, bahwa suatu hari, semuanya harus memiliki akhir. Bahwa di saat aku memulai, akupun juga harus mengakhiri. Kapanpun, dimanapun… Dan siapapun. Kadang aku merasa tolol sekali. Aku mendengar banyak lagu mellow tentang cinta yang sempurna, semuanya yang nantinya akan membuatmu merasa berbunga-bunga. Bukan keinginan Jani untuk berpisah dan meninggalkanku. Bukan keinginanku pula untuk merindukan dan menginginkannya hadir disisiku kembali. Sejak dulu, aku tidak pernah mengira kalau hanya Jani yang setia hadir disaat aku menangis. Hanya Jani yang mampu menyanyikan lagu kesukaanku disetiap rasa bosan tiba-tiba menggerogoti waktu. Dan disaat Ia pergi, aku hanya dapat menghitung. Menghitung sudah berapa hari yang telah aku sia-siakan tanpa dapat menghargai kehadirannya. Menghitung sudah berapa langkah yang ia ambil untuk menyusuri jalan di balik punggungku, pergi menjauh. Menghitung sudah berapa jam yang menguap disaat aku termangu sendiri tepat seperti saat ini. Aku tidak pernah takut untuk sendiri, aku juga tidak pernah takut untuk menghitung. Tapi entah mengapa, sekarang aku membenci matematika. ya,sejak mengetahui bahwa aku sudah berhasil mengitung sesuatu yang fatal. Aku sudah berhasil menghitung berapa kali aku menyakiti Jani dan menyusahkannya. Bahkan di saat aku hanya tinggal sendiri, aku masih sering menyesalinya. *** Arhes. Aku selalu merindukannya, setiap saat. Setiap saat, wajahnya selalu membayangi pikiranku. Setiap saat, aku masih berharap bisa mendengar kata-kata yang membuat hariku selalu lebih baik, “Tomorrow will be better”. Setiap saat, aku masih mengharapnya mengirim pesan singkat yang isinya hanya “Kangen :(“. Silly little things we are. Damn, apa yang sedang aku pikirkan? Punya pacar itu seperti melakukan hal yang sia-sia. Pernah tidak kamu berfikir, satu-satunya cara supaya tidak merasakan sakit hati adalah dengan tidak jatuh cinta? Terkadang aneh - dan lucu, kalau kita fikir, kenapa satu-satunya hal yang kita cintai juga menjadi satu-satunya hal yang menyakiti kita, dan bukan hanya perih standar. Tapi luka dalam. Yang bekasnya nggak akan hilang walau dalam beribu-ribu jahitan sekalipun. Actually I should know that everything will be heartache, especially when her back was turned on me. Aku sempat berfikir; kalau memang aku menyayangi Arhes, mengapa harus terluka disaat melihatnya pergi? Dan rasa perih yang sama juga muncul ketika dia hadir. Di saat dia tidak berada disampingku, aku kalut mencarinya. Dan di saat dia ada, aku benci untuk menyadari bahwa aku masih mempedulikan keadaannya. Dan yang mengherankannya, why do I care? Why do I care if she catch a little flu? Why do I care if she talk about her busyness and how exhausted her schedule? Why do I care if she express her gloomy face? Why do I care if she scared of tests? Why do I care if she need a place to hide? Why do I care if she doesn’t have a secret-keeper? And why do I care if she doesn’t care about me? *** Kalimat di atas terngiang-ngiang dalam kepalaku sepertinya pemutaran film, berulang-ulang hingga membuat pening. Bukan salah siapa-siapa jika aku tidak bahagia. Bahagia bukan tujuan akhir dari para manusia bukan? happiness is a way of life. Dan bukan salah siapa-siapa pula jika perpisahanku dan Jani membuatku tidak bahagia. Salahkah? Cih, Rhes, sampai kapan sih kamu masih mau mangkir dari kesalahan mu… Mengapa bagian akhir dari sebuah hubungan tidak berujung bahagia? Jelas, yang sering kita sebut putus itu pasti tidak menyenangkan. Mengapa kita putus? When everything matters, the only thing you want to do is giving up. And I forgot how to be getting though. Aku melupakan fakta bahwa sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri kisah, aku dan Jani sudah pernah menempuh berbagai aspek bersama dalam kadar yang lebih berat dari apatisme dan kejenuhan -2 faktor yang membuat kita berakhir terpisah. Dia gerah dengan segala kesibukanku, dan aku juga menuntut terlalu banyak perhatian. Sekanak-kanakkan itu. Sebodoh itu. Jika memang dia orang yang tepat - someone who we called as Mr. Right - mengapa jalan dari segala sesuatunya tidak se-mulus yang aku perkirakan? Aku tidak pernah menuntut untuk akhir yang sempurna, aku hanya menginginkan akhir yang bahagia…hanya itu. ***
Aku tidak mengharapkan lebih. Kalau aku menyayanginya… Mengapa tidak kurelakan saja dia pergi supaya dia bahagia?… …Atau sebenarnya perpisahan bukanlah garis akhir untuk membuat kita sama-sama bahagia pada akhirnya? *** “Kenapa akhirannya harus seperti itu ya?” “Boleh jujur?” “Jadi mau lo apa?!” “Jadi apa akhiran ceritanya?” “And they live happily ever after…”
I wish you were here with me, but we’re stuck where we are and its so hard, you’re so far. This long distance is killing me We never talk because we never tried
Apa yang salah dengan mencoba untuk bicara setelah berpisah sekian lama? Mencoba untuk berteman lagi, itu bukanlah sebuah dosa. Bukanlah sesuatu yang bisa meruntuhkan ego yang super tinggi, bukanlah aib yang enggan untuk dibuka ke khalayak luas. Pernahkah kamu merasa kehilangan seseorang dan hal tersebut sangat menyakitkan? Bukan hanya mengetahui kenyataan bahwa dia tidak akan lagi selalu ada untukmu, tapi juga harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa dia tidak akan mau kembali pada lingkar pertemanan manis denganmu layaknya sedia kala, bahkan berbicara denganmu saja dia enggan…. Hal itu terasa seperti kehilangan dua hal yang sangat penting dalam hidup: kehilangan seseorang yang dikasihi dan kehilangan seorang sahabat. Apalagi jika kalian memulai dari sepasang sahabat yang menghargai satu sama lain. Dan sekarang kalian tidak bisa kembali bercanda, tertawa bersama-sama, atau mencurahkan kegundahan hati masing-masing. Tidak bisa lagi. Hal itu sangat menyakitkan…. Aku bukanlah perempuan yang memiliki maksud tersembunyi. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang perempuan yang memiliki maksud tersembunyi dari semua tindakannya.. Masa dia tidak bisa melihat keinginanku, bahwa kini aku hanya ingin melanjutkan lingkar pertemanan kami? Seorang teman yang benar-benar bisa tertawa,bisa tersenyum, bukan seorang teman - sebuah kata yang hanya sekedar basa-basi, mengingat dia tidak pernah menganggapku sebagai teman. Apalagi sebagai seorang sahabat… Katanya, seseorang akan mencoba kembali untuk berbicara dengan mantan kekasihnya jika dia sudah benar-benar bisa melanjutkan hidup. Jika dia sudah bisa menemukan orang lain yang bisa mengisi hari-harinya. Jika dia sudah benar-benar yakin bahwa dia tidak akan jatuh cinta lagi dengan mantan kekasihnya… Sudah berbulan-bulan, sudah ada orang-orang lain, namun kami tetap tidak bisa memulai,walau hanya sebuah rangkaian kata. Andai saja kita berani mencoba. Mencoba untuk sekedar ucap kata. |